Aku menghela nafas lega, akhirnya
tugas yang membuatku pusing tujuh keliling telah rampung. Kulepaskan
kepenatanku dengan menghirup udara sore hari yang sejuk, karena baru saja
diguyur hujan. Kusandarkan punggungku pada salah satu kursi yang terletak di teras
rumahku. Seorang anak laki-laki kecil yang membawa keranjang melintas di depan
rumahku sambil berteriak, “Pisang goreng...pisang goreng...” Mendengar teriakan
itu, perutku langsung keroncongan. Ini pertanda bahwa aku harus segera
memanggil anak itu dan membeli pisang goreng yang dijualnya.
“Prokprokprok!” karena malas berteriak,
aku menepukkan kedua telapak tangan dengan harapan anak yang sudah hampir
sampai diujung jalan itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. Usahaku
berhasil, anak itu memutar balik langkahnya dan berjalan kearahku. Aku yang menunggu
di depan pagar rumah, berdiri sambil memeriksa saku kemeja yang kukenakan,
berharap masih ada sisa rupiah didalamnya sehingga aku tak perlu repot-repot
untuk berlari kedalam rumah guna mengambil uang. Syukurlah, masih ada uang
sepuluh ribu rupiah di saku kemejaku. Sesampainya anak itu dihadapanku...
