Tuesday, November 18, 2014

[Hati Untuk Ammar] "Pisang Goreng Membawa Kebahagiaan"

        Aku menghela nafas lega, akhirnya tugas yang membuatku pusing tujuh keliling telah rampung. Kulepaskan kepenatanku dengan menghirup udara sore hari yang sejuk, karena baru saja diguyur hujan. Kusandarkan punggungku pada salah satu kursi yang terletak di teras rumahku. Seorang anak laki-laki kecil yang membawa keranjang melintas di depan rumahku sambil berteriak, “Pisang goreng...pisang goreng...” Mendengar teriakan itu, perutku langsung keroncongan. Ini pertanda bahwa aku harus segera memanggil anak itu dan membeli pisang goreng yang dijualnya.

            “Prokprokprok!” karena malas berteriak, aku menepukkan kedua telapak tangan dengan harapan anak yang sudah hampir sampai diujung jalan itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. Usahaku berhasil, anak itu memutar balik langkahnya dan berjalan kearahku. Aku yang menunggu di depan pagar rumah, berdiri sambil memeriksa saku kemeja yang kukenakan, berharap masih ada sisa rupiah didalamnya sehingga aku tak perlu repot-repot untuk berlari kedalam rumah guna mengambil uang. Syukurlah, masih ada uang sepuluh ribu rupiah di saku kemejaku. Sesampainya anak itu dihadapanku...


            “Pisang gorengnya berapa, Dik?” Tanyaku.

            “Lima ratus kak.” jawab anak kecil itu dengan wajah gembira seraya menyembunyikan kelelahannya.

            “Kalau begitu, kakak beli sepuluh ya.”

            “Baiklah kak, tunggu sebentar ya.”

        Sembari anak itu mengambil kantung plastik dan membungkus pisang goreng, aku melontarkan beberapa pertanyaan padanya.

            “Kamu sekarang sekolahnya kelas berapa?” Aku memulai.

          “Aku udah nggak sekolah lagi kak, tapi kalau masih sekolah, mungkin sekarang aku udah kelas 4 SD.” Jawabnya sambil menunduk.

            “Kenapa nggak sekolah lagi?” Tanyaku pelan.

           “Nggak punya biaya kak, ini saja masih beruntung ada tetangga yang mau meminjamkan modal untuk berjualan, hasilnya ya untuk makan sehari-hari sama beli obat untuk ibuku.” Jelasnya.

            “Memangnya ibu kamu sakit apa? Terus, ayahmu mana?” Aku mulai penasaran.

            “Ibuku sakit demam kak, suhu tubuhnya nggak turun-turun. Kalau ayahku udah lama meninggal kak, waktu aku masih berumur dua tahun.” Tutur anak kecil itu.

       Aku terdiam, sedikit melamun setelah mendengar jawabannya. Ingin rasanya aku membantu meringankan beban anak kecil yang semestinya menikmati masa kecilnya dengan bermain dan mengenyam pendidikan di sekolah. Tapi, bagi anak yang berada dihadapanku saat ini, hal tersebut tak dapat dinikmatinya.

            “Ini pisang gorengnya kak.” Ia membuyarkan lamunanku.

            “Oh! iya dik, ini uangnya. Kembaliannya ambil aja!” Ujarku sambil menyodorkan uang.

            “Terima kasih banyak, kak.” Ucapnya dengan girang.

            “Sama-sama.  Oh iya, nama kamu siapa? Terus, tinggal dimana?”

            “Nama aku Raihan kak, aku tinggal di lorong seberang sana, rumahku yang paling ujung.” Jawabnya sambil menunjuk ke seberang jalan.

           “Kalau gitu aku pamit dulu ya kak, besok-besok dibeli lagi ya pisang gorengnya he..he..he..” Ujarnya sambil tertawa kecil.

            “He..he.. oke deh kalau gitu, hati-hati ya dik!”

            “Iya kak.”

          Aku berjalan dengan perlahan memasuki rumah sambil membawa kantung plastik berisi pisang goreng yang kubeli tadi. Aku menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong, karena masih terpikir akan cerita anak kecil yang kira-kira berumur sebelas tahun itu. Tiba-tiba, keroncongan diperutku terdengar lagi. Aku langsung beralih ke pisang goreng yang kubeli tadi. Dengan bergegas aku membuka kantung plastik pembungkusnya dan memakannya dengan lahap.

***

            Keesokan harinya, aku berangkat ke kampus seperti biasa. Jarak antara rumah dan kampusku kira-kira 12 km, yang biasa kutempuh dengan naik kendaraan umum atau yang lebih sering disebut angkot. Minggu lalu, dosen kami menjanjikan bahwa hari ini ada ujian tengah semester. Aku yang sudah semalaman belajar merasa sudah sangat siap untuk menghadapi ujian pada hari ini. Aku pun berjalan menuju ruang belajarku dengan penuh semangat.

            Sesampainya disana, aku kebingungan. Raut muka teman-teman satu kelasku sangat beragam. Ada yang cemberut, kegirangan, dan sebagainya. Meja dosen pun masih kosong. Lalu, salah satu temanku, Bayu, menyapaku dengan girang.

          “Hai Ra! Gimana rasanya kalau baru sampai terus dengar kabar bahwa dosennya nggak masuk? Ha..ha..ha..”

            “Maksud kamu?” Tanyaku heran.

            “Pak Sobri nggak masuk, anaknya sakit.” Jawab Bayu.

            “Hah! Serius?”

            “Iya, tadi baru saja dia ngasih kabar.” Tutur Bayu.

        Kepergianku ke kampus hari ini sia-sia saja. Dan kekesalan mulai timbul dalam benakku. Aku menggerutu dalam hati sambil memutar balikkan langkahku untuk keluar lagi dari kelas yang suasananya sudah bercampur aduk.

            Tiba-tiba, wajahku yang cemberut berubah menjadi senyuman. Aku baru saja terpikir, daripada aku menghabiskan waktu di kampus ini dengan kegiatan yang tak jelas, lebih baik aku berkunjung ke rumah Raihan, anak kecil penjual pisang goreng itu. Ternyata, ketidakhadiran dosen pada hari ini ada hikmahnya juga, ucapku dalam hati sambil tertawa kecil.

           Karena rumah Raihan tak terlalu jauh dari rumahku, jadi tak begitu sulit pula aku mencari keberadaan rumahnya. Setelah turun dari kendaraan umum alias angkot, aku menuju lorong yang kemarin ditunjuk Raihan sebagai lorong menuju rumahnya. Kutelusuri lorong itu hingga sampai pada rumah yang paling ujung. Rumah itu tampak sangat sederhana dan tidaklah besar. Tidak terdapat pagar disana. Rumah itu tampak sepi, bagai tak berpenghuni. Aku melangkah mendekati rumah itu sambil melirik ke sekitarnya.

            “TokTokTok! Assalamualaikum...” Ucapku lantang.

      Setelah beberapa kali aku mengetuk pintu dan mengucap salam, akhirnya muncullah Raihan membukakan pintu dengan ekspresi kaget dan langsung mempersilahkan masuk.

            “Waalaikumsalam... Eh ini kakak yang kemarin kan? Silahkan masuk kak!” Ucapnya.

            “Iya dik, terima kasih.”

            Aku memasuki rumah Raihan sambil melirik seisi ruangan. Sungguh memprihatinkan. Rumah Raihan sebenarnya sudah tak layak huni lagi. Dindingnya sudah banyak yang retak. Atapnya sudah bocor di sana-sini. Rumah itu juga masih berlantaikan tanah. Hal ini bisa dijadikan pelajaran bagiku untuk senantiasa bersyukur, karena aku masih bisa tinggal dirumah yang layak huni meski tidaklah mewah.

         Aku duduk di kursi plastik yang tak begitu kokoh lagi. Belum lama aku duduk, terlihat seorang perempuan paruh baya berbaring diruang tengah dengan beralaskan tikar. Sepertinya, ia sedang tidur. Perempuan itu tampak sangat kurus dan tubuhnya lemah. Mukanya pucat pasih. Lalu, Raihan yang sejak tadi mengetahui gerak-gerikku berkata dengan penuh kerendahan hati.

            “Beginilah keadaan rumah kami kak. Walaupun sudah tak layak huni lagi, tapi kami tetap bersyukur kak, karena hanya rumah ini yang kami punya. Maaf kak kalau kakak merasa risih berada di rumah ini.” Tuturnya sambil berusaha menyembunyikan perasaan sedih.

          “Nggak kok dik, kakak sama sekali nggak merasa risih. Oh iya, itu ibu kamu?” Tanyaku sambil menunjuk perempuan tadi.

           “Iya kak, itu ibu Raihan yang kemarin Raihan ceritakan sama kakak. Kami Cuma tinggal berdua disini kak. Eh Raihan ambil minum dulu ya kak.”

            “Iya dik.”

            Setelah itu, kami pun bercakap-cakap. Banyak sekali hal yang aku tanyakan pada Raihan. Begitupun sebaliknya. Setelah percakapan itu berlangsung kira-kira selama tiga puluh menit, aku berpamitan untuk pulang kerumah. Aku bertekad dalam hati bahwa di lain waktu, aku akan datang lagi ke rumah Raihan dengan membawa kebahagiaan untuk ia dan ibunya.

***

            Aku mempunyai hobi yang tidak unik, yaitu membaca novel. Aku pun mempunyai banyak koleksi novel. Dan di setiap malam sebelum tidur, aku selalu menyempatkan diri untuk membaca novel tersebut. Namun, malam ini terasa berbeda. Aku tidak tertarik untuk membaca novel. Aku malah sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk membantu meringankan beban Raihan dan ibunya.


            Tiba-tiba, mataku tertuju pada sekumpulan bros jilbabku yang kuletakkan didalam sebuah wadah di atas meja. Aku senyum-senyum sendiri. Menandakan bahwa ide yang kucari telah muncul. Aku berinisiatif untuk memanfaatkan keterampilanku dalam membuat bros jilbab, yang kemudian akan kujual, dan hasilnya tentu akan aku kumpulkan untuk membantu Raihan dan ibunya.

            Pekerjaan ini tak mungkin bisa aku selesaikan sendirian. Apalagi jika dalam kurun waktu yang sangat singkat. Untuk itu, aku mengikutsertakan beberapa temanku agar turut berkontribusi dalam membantu Raihan dan ibunya. Teman-temanku juga setuju dengan ide yang aku utarakan, bahkan mereka memberikan ide-ide lainnya. Mereka pun tak kalah antusias dalam kegiatan ini. Kami sama-sama menyisihkan uang jajan kami untuk dijadikan modal.      

           Bukan hanya bros jilbab yang kami jual, tetapi juga berbagai aksesoris lainnya, seperti gelang, kalung, dan flower crown. Semua itu juga kami buat dengan memanfaatkan keterampilan yang kami miliki. Banyak media yang kami gunakan untuk mempromosikan hasil karya kami. Mulai dari Facebook, Twitter, Blackberry Messenger, dan lain-lain. Syukurlah, niat baik kami ini berjalan lancar. Walau tubuh berpeluh, tapi kami pantang mengeluh. Memang benar, sesuatu yang dikerjakan bersama-sama hasilnya akan lebih baik daripada dikerjakan sendirian. Karena kerja sama memiliki kekuatan yang luar biasa.

            Selain dengan berjualan, kami juga mengumpulkan dana dengan cara yang lain. Kami mendonasikan sebagian uang tabungan kami. Tak sedikit juga yang berinisiatif menyumbangkan sembako. Bahkan, bagi beberapa temanku yang mahir dalam memainkan alat musik, mereka rela turun ke jalanan untuk mengamen. Sungguh, aku sangat bangga dan terharu atas semua ini. Antusiasme mereka memang patut diacungi jempol.

***


            Setelah dana terkumpul, kami memutuskan untuk langsung memberikannya pada Raihan dan ibunya. Tidak semua temanku ikut serta untuk mendatangi rumah Raihan. Hanya beberapa orang saja. Terutama yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Raihan. Kami sangat bersemangat ketika menempuh perjalanan menuju rumah Raihan. Kami tak sabar ingin melihat kebahagiaan pada raut wajah Raihan dan ibunya.

            Sesampainya disana, kami disambut baik oleh Raihan dan Ibunya. Walaupun ibunya masih dalam keadaan sakit dan kondisinya lemah, tapi ia tetap berusaha kuat dan bersikap baik pada kami. Ia menyuruh Raihan mengambilkan minuman untuk kami. Sembari menunggu Raihan, ia berusaha bangkit dari pembaringannya dan menuju ke arah kami yang berada di ruang depan. Aku berusaha menuntunnya dan membantunya duduk di kursi yang masih kosong di samping kami. Lalu, ia bertanya-tanya kepada kami.

            “Mohon maaf nak, kalian ini siapa ya?” Tanya ibu Raihan dengan bingung.

           “Kenalin bu, namaku Nara, dan ini teman-temanku. Sebenarnya, aku sudah kenal sama Raihan.  Dan sebelumnya aku juga sudah pernah berkunjung ke sini.” Jelasku.

            “Lalu, kalian ada perlu apa datang kesini?” Lanjutnya.

            Belum sempat aku menjawab pertanyaan itu, datanglah Raihan dengan membawa beberapa gelas air putih.

            “Ini kak, diminum dulu!” Ujarnya sambil tersenyum.

            “Iya dik terima kasih.” Ucap kami bersamaan. Kemudian, aku melanjutkan pembicaraan.

           “Jadi begini Bu, sebelumnya Raihan sudah pernah cerita sama aku tentang keadaan ekonomi keluarga ibu dan juga kondisi kesehatan ibu. Kami sangat prihatin mendengar hal itu. Maka, maksud kedatangan kami kemari untuk memberikan bantuan berupa uang dan sembako yang telah kami kumpulkan beberapa hari yang lalu. Kami sangat berharap bahwa uang dan sembako ini dapat berguna dan bisa membantu meringankan beban Ibu dan Raihan.” Jelasku dengan penuh rasa iba.

            “Subhanallah, kalian serius nak? Ini nyata? Atau ibu sedang bermimpi?” Ujar ibu Raihan yang masih terkejut mendengar penjelasanku.

            “Kakak serius? Uang sama sembako ini untuk kami kak?” Tambah Raihan.

          “Ibu, Raihan, kami serius. Kami benar-benar tulus dan ikhlas memberikan semua ini untuk kalian.” Tuturku dengan penuh keyakinan.

           Setelah mendengar hal itu, Raihan dan ibunya tak kuasa menahan tangis. Ibunya yang lemah berusaha meraih pundak Raihan dan langsung memeluk anak semata wayangnya itu. Raihan pun membalas pelukan ibunya dengan sangat erat. Inilah yang kami nanti-nantikan. Kebahagiaan yang mulai terpancar pada raut wajah keduanya. Kami yang menyaksikan hal itu juga tak bisa lagi membendung air mata. Suasana haru mulai menyebar dan memenuhi seisi ruangan.

          “Terima kasih banyak nak, semoga Allah membalas kebaikan kalian lebih dari apa yang kalian lakukan.” Ucap ibu Raihan yang masih tersedu-sedu.

           “Iya kak, Raihan juga mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya sama kakak-kakak yang sudah peduli dan mau membantu kami.” Raihan menambahkan.

             “Aamiin. Iya sama-sama. Semoga dengan adanya hal ini, tali silahturahmi kita akan tetap tersambung dengan erat.” Ujar salah satu temanku, Dian.

           “Iya, semoga kita juga senantiasa dalam lindungan-Nya. Oh iya Raihan, ibunya segera diajak berobat ya, supaya ibu lekas sembuh.” Tukas Arin, temanku yang juga berada di rumah Raihan.

         “Iya kak, Raihan akan segera mengantar ibu berobat. Pokoknya, ibu harus sembuh sehingga bisa beraktivitas seperti biasa.” Jawab Raihan dengan girang.

          “Iya, nanti ibu akan manfaatkan uang dan sembako ini dengan sebaik mungkin.” Ibu Raihan pun menjawab dengan tak kalah girangnya. Mukanya yang semula pucat, kini jadi berseri. Tubuhnya yang lemah, kini jadi sedikit bertenaga.

             Beberapa saat kemudian, kami berpamitan untuk pulang. Raihan dan ibunya mengantar kami sampai ke depan pintu rumah. Tak henti-hentinya mereka mengucapkan terima kasih. Dan tak henti-hentinya pula kami bersyukur atas nikmat yang kami peroleh, sehingga kami bisa membantu meringankan beban sesama.


           Sebelum pulang ke rumah masing-masing, teman-temanku memutuskan untuk mampir sebentar ke rumahku yang tak jauh dari rumah Raihan. Diperjalanan menuju rumahku, kami sesekali saling melirik dan senyum-senyum sendiri. Ini merupakan tanda kegembiraan karena kepuasan yang kami peroleh atas ikhtiar yang selama ini kami lakukan. Kami yakin, ini semua dapat terselenggara dengan baik berkat keikhlasan, ketulusan, dan kerja sama yang kuat diantara kami. Kemudian, kami saling merangkul. Hal ini menunjukkan bahwa kami siap untuk membantu sesama lagi, lagi, dan lagi.


*The End*

Karya : Eka Sulistiana

No comments:

Post a Comment