Aku menghela nafas lega, akhirnya
tugas yang membuatku pusing tujuh keliling telah rampung. Kulepaskan
kepenatanku dengan menghirup udara sore hari yang sejuk, karena baru saja
diguyur hujan. Kusandarkan punggungku pada salah satu kursi yang terletak di teras
rumahku. Seorang anak laki-laki kecil yang membawa keranjang melintas di depan
rumahku sambil berteriak, “Pisang goreng...pisang goreng...” Mendengar teriakan
itu, perutku langsung keroncongan. Ini pertanda bahwa aku harus segera
memanggil anak itu dan membeli pisang goreng yang dijualnya.
“Prokprokprok!” karena malas berteriak,
aku menepukkan kedua telapak tangan dengan harapan anak yang sudah hampir
sampai diujung jalan itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. Usahaku
berhasil, anak itu memutar balik langkahnya dan berjalan kearahku. Aku yang menunggu
di depan pagar rumah, berdiri sambil memeriksa saku kemeja yang kukenakan,
berharap masih ada sisa rupiah didalamnya sehingga aku tak perlu repot-repot
untuk berlari kedalam rumah guna mengambil uang. Syukurlah, masih ada uang
sepuluh ribu rupiah di saku kemejaku. Sesampainya anak itu dihadapanku...
“Pisang gorengnya berapa, Dik?”
Tanyaku.
“Lima ratus kak.” jawab anak kecil
itu dengan wajah gembira seraya menyembunyikan kelelahannya.
“Kalau begitu, kakak beli sepuluh
ya.”
“Baiklah kak, tunggu sebentar ya.”
Sembari anak itu mengambil kantung
plastik dan membungkus pisang goreng, aku melontarkan beberapa pertanyaan
padanya.
“Kamu sekarang sekolahnya kelas
berapa?” Aku memulai.
“Aku udah nggak sekolah lagi kak,
tapi kalau masih sekolah, mungkin sekarang aku udah kelas 4 SD.” Jawabnya
sambil menunduk.
“Kenapa nggak sekolah lagi?” Tanyaku
pelan.
“Nggak punya biaya kak, ini saja
masih beruntung ada tetangga yang mau meminjamkan modal untuk berjualan,
hasilnya ya untuk makan sehari-hari sama beli obat untuk ibuku.” Jelasnya.
“Memangnya ibu kamu sakit apa?
Terus, ayahmu mana?” Aku mulai penasaran.
“Ibuku sakit demam kak, suhu
tubuhnya nggak turun-turun. Kalau ayahku udah lama meninggal kak, waktu aku
masih berumur dua tahun.” Tutur anak kecil itu.
Aku terdiam, sedikit melamun setelah
mendengar jawabannya. Ingin rasanya aku membantu meringankan beban anak kecil
yang semestinya menikmati masa kecilnya dengan bermain dan mengenyam pendidikan
di sekolah. Tapi, bagi anak yang berada dihadapanku saat ini, hal tersebut tak
dapat dinikmatinya.
“Ini pisang gorengnya kak.” Ia
membuyarkan lamunanku.
“Oh! iya dik, ini uangnya.
Kembaliannya ambil aja!” Ujarku sambil menyodorkan uang.
“Terima kasih banyak, kak.” Ucapnya
dengan girang.
“Sama-sama. Oh iya, nama kamu siapa? Terus, tinggal
dimana?”
“Nama aku Raihan kak, aku tinggal di
lorong seberang sana, rumahku yang paling ujung.” Jawabnya sambil menunjuk ke
seberang jalan.
“Kalau gitu aku pamit dulu ya kak,
besok-besok dibeli lagi ya pisang gorengnya he..he..he..” Ujarnya sambil
tertawa kecil.
“He..he.. oke deh kalau gitu,
hati-hati ya dik!”
“Iya kak.”
Aku berjalan dengan perlahan
memasuki rumah sambil membawa kantung plastik berisi pisang goreng yang kubeli
tadi. Aku menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong, karena masih terpikir
akan cerita anak kecil yang kira-kira berumur sebelas tahun itu. Tiba-tiba,
keroncongan diperutku terdengar lagi. Aku langsung beralih ke pisang goreng
yang kubeli tadi. Dengan bergegas aku membuka kantung plastik pembungkusnya dan
memakannya dengan lahap.
***
Keesokan harinya, aku berangkat ke
kampus seperti biasa. Jarak antara rumah dan kampusku kira-kira 12 km, yang
biasa kutempuh dengan naik kendaraan umum atau yang lebih sering disebut
angkot. Minggu lalu, dosen kami menjanjikan bahwa hari ini ada ujian tengah
semester. Aku yang sudah semalaman belajar merasa sudah sangat siap untuk
menghadapi ujian pada hari ini. Aku pun berjalan menuju ruang belajarku dengan
penuh semangat.
Sesampainya disana, aku kebingungan.
Raut muka teman-teman satu kelasku sangat beragam. Ada yang cemberut,
kegirangan, dan sebagainya. Meja dosen pun masih kosong. Lalu, salah satu
temanku, Bayu, menyapaku dengan girang.
“Hai Ra! Gimana rasanya kalau baru
sampai terus dengar kabar bahwa dosennya nggak masuk? Ha..ha..ha..”
“Maksud kamu?” Tanyaku heran.
“Pak Sobri nggak masuk, anaknya
sakit.” Jawab Bayu.
“Hah! Serius?”
“Iya, tadi baru saja dia ngasih
kabar.” Tutur Bayu.
Kepergianku ke kampus hari ini
sia-sia saja. Dan kekesalan mulai timbul dalam benakku. Aku menggerutu dalam
hati sambil memutar balikkan langkahku untuk keluar lagi dari kelas yang
suasananya sudah bercampur aduk.
Tiba-tiba, wajahku yang cemberut
berubah menjadi senyuman. Aku baru saja terpikir, daripada aku menghabiskan
waktu di kampus ini dengan kegiatan yang tak jelas, lebih baik aku berkunjung
ke rumah Raihan, anak kecil penjual pisang goreng itu. Ternyata, ketidakhadiran dosen pada hari ini ada hikmahnya juga,
ucapku dalam hati sambil tertawa kecil.
Karena rumah Raihan tak terlalu jauh
dari rumahku, jadi tak begitu sulit pula aku mencari keberadaan rumahnya.
Setelah turun dari kendaraan umum alias angkot, aku menuju lorong yang kemarin
ditunjuk Raihan sebagai lorong menuju rumahnya. Kutelusuri lorong itu hingga
sampai pada rumah yang paling ujung. Rumah itu tampak sangat sederhana dan
tidaklah besar. Tidak terdapat pagar disana. Rumah itu tampak sepi, bagai tak
berpenghuni. Aku melangkah mendekati rumah itu sambil melirik ke sekitarnya.
“TokTokTok! Assalamualaikum...”
Ucapku lantang.
Setelah beberapa kali aku mengetuk
pintu dan mengucap salam, akhirnya muncullah Raihan membukakan pintu dengan
ekspresi kaget dan langsung mempersilahkan masuk.
“Waalaikumsalam... Eh ini kakak yang
kemarin kan? Silahkan masuk kak!” Ucapnya.
“Iya dik, terima kasih.”
Aku memasuki rumah Raihan sambil
melirik seisi ruangan. Sungguh memprihatinkan. Rumah Raihan sebenarnya sudah
tak layak huni lagi. Dindingnya sudah banyak yang retak. Atapnya sudah bocor di
sana-sini. Rumah itu juga masih berlantaikan tanah. Hal ini bisa dijadikan
pelajaran bagiku untuk senantiasa bersyukur, karena aku masih bisa tinggal
dirumah yang layak huni meski tidaklah mewah.
Aku duduk di kursi plastik yang tak
begitu kokoh lagi. Belum lama aku duduk, terlihat seorang perempuan paruh baya
berbaring diruang tengah dengan beralaskan tikar. Sepertinya, ia sedang tidur. Perempuan
itu tampak sangat kurus dan tubuhnya lemah. Mukanya pucat pasih. Lalu, Raihan
yang sejak tadi mengetahui gerak-gerikku berkata dengan penuh kerendahan hati.
“Beginilah keadaan rumah kami kak.
Walaupun sudah tak layak huni lagi, tapi kami tetap bersyukur kak, karena hanya
rumah ini yang kami punya. Maaf kak kalau kakak merasa risih berada di rumah
ini.” Tuturnya sambil berusaha menyembunyikan perasaan sedih.
“Nggak kok dik, kakak sama sekali
nggak merasa risih. Oh iya, itu ibu kamu?” Tanyaku sambil menunjuk perempuan
tadi.
“Iya kak, itu ibu Raihan yang
kemarin Raihan ceritakan sama kakak. Kami Cuma tinggal berdua disini kak. Eh
Raihan ambil minum dulu ya kak.”
“Iya dik.”
Setelah itu, kami pun
bercakap-cakap. Banyak sekali hal yang aku tanyakan pada Raihan. Begitupun
sebaliknya. Setelah percakapan itu berlangsung kira-kira selama tiga puluh
menit, aku berpamitan untuk pulang kerumah. Aku bertekad dalam hati bahwa di
lain waktu, aku akan datang lagi ke rumah Raihan dengan membawa kebahagiaan untuk
ia dan ibunya.
***
Aku mempunyai hobi yang tidak unik, yaitu membaca novel. Aku pun mempunyai banyak koleksi novel. Dan di setiap malam sebelum tidur, aku selalu menyempatkan diri untuk membaca novel tersebut. Namun, malam ini terasa berbeda. Aku tidak tertarik untuk membaca novel. Aku malah sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk membantu meringankan beban Raihan dan ibunya.
Tiba-tiba, mataku tertuju pada
sekumpulan bros jilbabku yang kuletakkan didalam sebuah wadah di atas meja. Aku
senyum-senyum sendiri. Menandakan bahwa ide yang kucari telah muncul. Aku
berinisiatif untuk memanfaatkan keterampilanku dalam membuat bros jilbab, yang
kemudian akan kujual, dan hasilnya tentu akan aku kumpulkan untuk membantu
Raihan dan ibunya.
Pekerjaan ini tak mungkin bisa aku
selesaikan sendirian. Apalagi jika dalam kurun waktu yang sangat singkat. Untuk
itu, aku mengikutsertakan beberapa temanku agar turut berkontribusi dalam
membantu Raihan dan ibunya. Teman-temanku juga setuju dengan ide yang aku
utarakan, bahkan mereka memberikan ide-ide lainnya. Mereka pun tak kalah
antusias dalam kegiatan ini. Kami sama-sama menyisihkan uang jajan kami untuk
dijadikan modal.
Bukan hanya bros jilbab yang kami
jual, tetapi juga berbagai aksesoris lainnya, seperti gelang, kalung, dan flower crown. Semua itu juga kami buat
dengan memanfaatkan keterampilan yang kami miliki. Banyak media yang kami
gunakan untuk mempromosikan hasil karya kami. Mulai dari Facebook, Twitter, Blackberry Messenger, dan lain-lain.
Syukurlah, niat baik kami ini berjalan lancar. Walau tubuh berpeluh, tapi kami
pantang mengeluh. Memang benar, sesuatu yang dikerjakan bersama-sama hasilnya
akan lebih baik daripada dikerjakan sendirian. Karena kerja sama memiliki
kekuatan yang luar biasa.
Selain dengan berjualan, kami juga
mengumpulkan dana dengan cara yang lain. Kami mendonasikan sebagian uang
tabungan kami. Tak sedikit juga yang berinisiatif menyumbangkan sembako.
Bahkan, bagi beberapa temanku yang mahir dalam memainkan alat musik, mereka
rela turun ke jalanan untuk mengamen. Sungguh, aku sangat bangga dan terharu
atas semua ini. Antusiasme mereka memang patut diacungi jempol.
***
Setelah dana terkumpul, kami
memutuskan untuk langsung memberikannya pada Raihan dan ibunya. Tidak semua
temanku ikut serta untuk mendatangi rumah Raihan. Hanya beberapa orang saja.
Terutama yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Raihan. Kami sangat
bersemangat ketika menempuh perjalanan menuju rumah Raihan. Kami tak sabar
ingin melihat kebahagiaan pada raut wajah Raihan dan ibunya.
Sesampainya disana, kami disambut
baik oleh Raihan dan Ibunya. Walaupun ibunya masih dalam keadaan sakit dan
kondisinya lemah, tapi ia tetap berusaha kuat dan bersikap baik pada kami. Ia
menyuruh Raihan mengambilkan minuman untuk kami. Sembari menunggu Raihan, ia
berusaha bangkit dari pembaringannya dan menuju ke arah kami yang berada di
ruang depan. Aku berusaha menuntunnya dan membantunya duduk di kursi yang masih
kosong di samping kami. Lalu, ia bertanya-tanya kepada kami.
“Mohon maaf nak, kalian ini siapa
ya?” Tanya ibu Raihan dengan bingung.
“Kenalin bu, namaku Nara, dan ini
teman-temanku. Sebenarnya, aku sudah kenal sama Raihan. Dan sebelumnya aku juga sudah pernah
berkunjung ke sini.” Jelasku.
“Lalu, kalian ada perlu apa datang
kesini?” Lanjutnya.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan
itu, datanglah Raihan dengan membawa beberapa gelas air putih.
“Ini kak, diminum dulu!” Ujarnya
sambil tersenyum.
“Iya dik terima kasih.” Ucap kami
bersamaan. Kemudian, aku melanjutkan pembicaraan.
“Jadi begini Bu, sebelumnya Raihan
sudah pernah cerita sama aku tentang keadaan ekonomi keluarga ibu dan juga
kondisi kesehatan ibu. Kami sangat prihatin mendengar hal itu. Maka, maksud
kedatangan kami kemari untuk memberikan bantuan berupa uang dan sembako yang
telah kami kumpulkan beberapa hari yang lalu. Kami sangat berharap bahwa uang
dan sembako ini dapat berguna dan bisa membantu meringankan beban Ibu dan
Raihan.” Jelasku dengan penuh rasa iba.
“Subhanallah, kalian serius nak? Ini
nyata? Atau ibu sedang bermimpi?” Ujar ibu Raihan yang masih terkejut mendengar
penjelasanku.
“Kakak serius? Uang sama sembako ini
untuk kami kak?” Tambah Raihan.
“Ibu, Raihan, kami serius. Kami
benar-benar tulus dan ikhlas memberikan semua ini untuk kalian.” Tuturku dengan
penuh keyakinan.
Setelah mendengar hal itu, Raihan
dan ibunya tak kuasa menahan tangis. Ibunya yang lemah berusaha meraih pundak
Raihan dan langsung memeluk anak semata wayangnya itu. Raihan pun membalas
pelukan ibunya dengan sangat erat. Inilah yang kami nanti-nantikan. Kebahagiaan
yang mulai terpancar pada raut wajah keduanya. Kami yang menyaksikan hal itu
juga tak bisa lagi membendung air mata. Suasana haru mulai menyebar dan
memenuhi seisi ruangan.
“Terima kasih banyak nak, semoga
Allah membalas kebaikan kalian lebih dari apa yang kalian lakukan.” Ucap ibu
Raihan yang masih tersedu-sedu.
“Iya kak, Raihan juga mengucapkan
terima kasih yang sebanyak-banyaknya sama kakak-kakak yang sudah peduli dan mau
membantu kami.” Raihan menambahkan.
“Aamiin. Iya sama-sama. Semoga
dengan adanya hal ini, tali silahturahmi kita akan tetap tersambung dengan
erat.” Ujar salah satu temanku, Dian.
“Iya, semoga kita juga senantiasa
dalam lindungan-Nya. Oh iya Raihan, ibunya segera diajak berobat ya, supaya ibu
lekas sembuh.” Tukas Arin, temanku yang juga berada di rumah Raihan.
“Iya kak, Raihan akan segera mengantar ibu berobat. Pokoknya, ibu harus sembuh sehingga bisa beraktivitas
seperti biasa.” Jawab Raihan dengan girang.
“Iya, nanti ibu akan manfaatkan uang
dan sembako ini dengan sebaik mungkin.” Ibu Raihan pun menjawab dengan tak
kalah girangnya. Mukanya yang semula pucat, kini jadi berseri. Tubuhnya yang
lemah, kini jadi sedikit bertenaga.
Beberapa saat kemudian, kami
berpamitan untuk pulang. Raihan dan ibunya mengantar kami sampai ke depan pintu
rumah. Tak henti-hentinya mereka mengucapkan terima kasih. Dan tak
henti-hentinya pula kami bersyukur atas nikmat yang kami peroleh, sehingga kami
bisa membantu meringankan beban sesama.
Sebelum pulang ke rumah
masing-masing, teman-temanku memutuskan untuk mampir sebentar ke rumahku yang
tak jauh dari rumah Raihan. Diperjalanan menuju rumahku, kami sesekali saling
melirik dan senyum-senyum sendiri. Ini merupakan tanda kegembiraan karena kepuasan
yang kami peroleh atas ikhtiar yang selama ini kami lakukan. Kami yakin, ini
semua dapat terselenggara dengan baik berkat keikhlasan, ketulusan, dan kerja
sama yang kuat diantara kami. Kemudian, kami saling merangkul. Hal ini
menunjukkan bahwa kami siap untuk membantu sesama lagi, lagi, dan lagi.
*The End*
Karya : Eka Sulistiana
No comments:
Post a Comment