Keesokan harinya di sekolah, Sezi pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa novel. Tiba-tiba...
"Eh, Sezi! Sendirian aja nih ? Gilang mana ?" Seru Via, teman satu kelas Sezi pada saat duduk di kelas satu.
"Oh, iya nih Via. Gilangnya tadi ke kantin. Katanya sih laper banget gara-gara belum sarapan." Jawab Sezi.
"Hmm gitu. Oh iya zi, semalem waktu aku ke rumah sakit buat ngejenguk nenek, aku liat Gilang, dia sama orang tuanya."
"Rumah sakit ? Gilang ke rumah sakit ? Kamu tahu ngapain dia ke rumah sakit ?"
"Nggak tau zi, soalnya aku nggak sempet nanyain dia. Tapi, kayaknya mereka segar bugar aja tuh. Mungkin mereka cuma mau ngejenguk orang. Kamu tanyain langsung aja sama Gilang." Jelas Via dengan penuh keyakinan.
"Eum...iya. Makasih ya."
"Oke!"
Perasaan Sezi jadi tak enak setelah mendengar cerita Via. Dia mengurungkan niatnya untuk meminjam novel. Dia memutuskan untuk menemui Gilang dan menanyakan hal itu.
Sezi menghampiri Gilang yang sedang menyantap semangkuk mie rebus dihadapannya.
"Gilang? Kamu semalem ke rumah sakit? Ngapain?" Tanya Sezi tanpa basa basi. Gilang sedikit terkejut dengan kedatangan Sezi yang langsung menanyakan hal itu padanya.
"Eh Sezi, kamu ngagetin aja. Kamu tau dari mana?" Sahut Gilang.
"Aku tau dari Via. Ayo jawab!"
"Semalem itu aku nemenin mama ngejenguk temennya."
"Bener?"
"Iy...ya iyalah."
"Nggak bohong???"
"Hmmm, nggak kok."
Sezi kurang yakin dengan jawaban Gilang. Dia merasa ada yang disembunyikan Gilang darinya. Apalagi, sikap Gilang akhir-akhir ini sedikit berbeda. Dia jadi agak cuek.
Sezi berjalan menuju kelasnya. Dia meninggalkan Gilang yang masih asyik dengan santapannya. Dari arah berlawanan, Riko juga berjalan dengan tenang.
"Kak Sezi? kok sendirian?" sapa Riko.
"Riko? Nggak apa-apa kok." jawab Sezi.
Mereka melanjutkan percakapan itu. Semakin lama, mereka terlihat semakin akrab. Bahkan mereka sering bersama. Layaknya sepasang kekasih. Tapi, Sezi sadar akan adanya Gilang sebagai kekasihnya yang sebenarnya. Jadi, dia juga harus membatasi kedekatannya dengan Riko.
***
Beberapa hari berlalu, Sezi merasa Gilang semakin menjauh darinya. Gilang yang selama ini sering menghampirinya ke kelas, sekarang sudah tidak lagi. Gilang yang selama ini juga sering menghubunginya, kini sudah sangat jarang. Malah Sezi yang sering mencoba untuk menghubungi Gilang. Tapi, Gilang tak selalu bisa dihubungi.
Siang itu, Sezi tak kuasa menahan perutnya yang keroncongan. Dia belum sama sekali mengisi perutnya hari ini. Dia memutuskan untuk mengajak Gilang ke kantin. Namun, pada saat dia menghampiri Gilang di kelasnya, apa yang terjadi?!? Ternyata, Gilang tidak masuk sekolah dengan keterangan 'izin'. Ya ampun! Gilang ke mana? kok dia nggak ngabarin aku??? kelu Sezi dalam hati.
To Be Continued...
No comments:
Post a Comment