Friday, July 12, 2013

Pesan Terakhir #3

        "Kriiiiiiiing!" Suara bel melengking ditelinga Sezi. Akhirnya, saat yang dinantikannya telah tiba.  Berakhirnya pelajaran hari ini. Bagaimana tidak, Sezi masih dibingungkan dengan ketidakhadiran Gilang hari ini ke sekolah. Dia ingin sekali menelepon ibu Gilang, tapi dia merasa takut. Takut ibu Gilang curiga padanya. Karena, ibunya tidak tahu bahwa Gilang sudah punya pacar.
        Sezi merasa langkah kakinya diikuti. Seperti ada langkah kaki lain yang menyertainya. Jaraknya terasa semakin dekat. Sezi menjadi sedikit cemas. Siapa itu?!? tanyanya dalam hati. Secara spontan,  Sezi menoleh ke belakang. Dan, apa yang dilihatnya!?! Dia mendapatkan senyuman manis yang begitu menggugah hatinya. Senyum itu sudah tak asing lagi baginya. Juga tatapan mata yang indah. Yah! Senyum manis dan mata yang indah itu milik Riko. Lelaki yang selalu ada disampingnya saat dia merindukan Gilang. Sama seperti saat ini, disaat Sezi sangat mengkhawatirkan Gilang, Riko muncul! Layaknya sebagai sumber energi bagi Sezi. Entah mengapa, tanpa diminta, Riko selalu ada disaat Sezi membutuhkannya. Meski belum terlalu lama kenal, Sezi merasa Riko adalah sahabat terbaiknya. Sahabat???! Akankah Riko juga menganggap Sezi sebagai sahabat??

        "Kakak kok sendirian? nggak bareng sama kak Gilang?" Riko memulai.
        "Ehmm kak Gilang nggak masuk sekolah."
        "Kenapa kak?"
        "Kakak juga nggak tau. Soalnya, kak Gilang nggak ngabarin kakak. Keterangannya sih izin."
        "Kakak udah coba hubungin kak Gilang?"
        "Handphonenya nggak aktif dek. Sebenarnya, niat kakak mau ngubungin ibunya, tapi kakak takut ibunya curiga kalo yang nanyain kabar Gilang itu teman perempuannya."
        "Emangnya ibu kak Gilang nggak tau kalo kak Gilang udah punya pacar?"
        "Nggak tau. Soalnya, kami emang belum diizinin sama orang tua buat pacaran. Jadi, yah gini! Sembunyi-sembunyi."
        "Oh gitu kak. Ya udah bilangin aja kakak ketua kelasnya kak Gilang."
        "Hmm boleh juga idemu dek. Makasih ya.."
        "Iya kak." Seraya melempar senyuman kepada kakak kelasnya itu.
        Sezi langsung meraih handphonenya dari dalam tas. Untunglah, Gilang pernah menghubungi Sezi menggunakan handphone ibunya. Jadi, Sezi sempat menyimpan nomornya.
        "Tuuut...tuuut....tuuut..." Sezi tak sabar menanti sambutan dari ibu Gilang. Tak lama kemudian...
        "Halo, Assalamualaikum!"
        "Wa...Waalaikumussalam tante!"
        "Maaf, ini siapa ya?"
        "Eum...A...Aku...ketua kelasnya Gilang tante." Jawab Sezi dengan sangat gugup.
        "Ketua kelas? Setahu tante, Gilang ketua kelas?"
 Sezi tersentak. Gawat! kok aku bisa lupa kalo Gilang ketua kelas?!! keluhnya dalam hati.
        "Ng...Iya, mm...maksud aku, aku ini, wakilnya tante. Iyah, wakilnya Gilang tante." Sezi semakin gugup dan terbata-bata.
        "Oh iya-iya. Ngomong-ngomong ada perlu apa nak?"
        "Ini tante, aku...cuma mau tau, kenapa tadi Gilang nggak masuk sekolah tante?"
        Pertanyaan yang dilontarkan Sezi itu tidak langsung dijawab oleh ibu Gilang. Dia terdiam sesaat. Seolah sedang mencari alasan. Lalu...
        "Oh itu... Gilang nemenin ayahnya ke Bali, ayahnya sedang ada urusan di sana."
Sezi mengerutkan dahinya setelah mendengar jawaban itu.
        "Kira-kira berapa lama dia di sana tante?" Lanjut Sezi.
        "Hmm kalo masalah itu, tante juga belum tau."
        "Oh! Ya udah, makasi ya tante. Assalamualaikum!"
        "Iya, sama-sama. Waalaikumussalam!"
        Sezi menghela nafas lega, dan terdiam sejenak. Untunglah, tidak terjadi apa-apa dengan Gilang. Ternyata dia ikut ayahnya ke Bali. Ucap Sezi dalam hati.
        "Kak, gimana?" Riko menyadarkan Sezi.
        "Yah, ternyata kak Gilang ikut ayahnya ke Bali. Biasa, ada urusan. Eh tau nggak? tadi kakak lupa kalo kak Gilang itu ketua kelas! Mangkanya, tadi kakak ralat sedikit." Cetus Sezi sambil tertawa geli.
        "Ya ampun kak! untung aja ibunya kak Gilang nggak curiga." Mereka pun tertawa serempak.

***
Satu minggu kemudian...
        Sezi sudah tampak segar. Seragam sekolah sudah melekat ditubuhnya. Aroma parfumnya memenuhi ruangan. Namun, kesegaran penampilannya tak sesegar hatinya, karena sampai saat ini belum juga berkomunikasi dengan Gilang.
        Sezi menuju ruang makan untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh mamanya.
        "Wah! nasi gorengnya begitu menggugah selera!" Sezi menggoda mamanya.
        "Oh iya ma! Hari ini, rasanya aku tuh pengeeeeen banget pagi baju warna hitam. Nggak tau kenapa nih ma?!? Mangkanya, aku pake cardigan hitam ini."
        "Eh kamu ini, pagi-pagi sudah ngawur! Biasanya, orang yang pake baju hitam itu tandanya sedang berkabung."
        Sezi langsung tersentak. Perasaannya jadi sedikit aneh. Seperti ada firasat buruk. Mudah-mudahan itu bukan do'a. Pinta Sezi dalam hati.

***
       
To Be Continued...

No comments:

Post a Comment