Sebagai
mukmin tentu kita ingin mengerjakan shalat sesuai dengan yang dikehendaki oleh
Allah swt yang memerintahkan shalat wajib lima waktu. Yang hendak dituju oleh
orang yang mengerjakan shalat adalah tumbuhnya keikhlasan, bertakwa kepada
Allah, dan mengingat Allah.
Tumbuhnya
keikhlasan ditandai dengan keikhlasan beribadah kepada Allah, untuk memurnikan
ketaatan hanya kepada-Nya, dan mengerjakan segala sesuatu yang diridhainya.
Ketaatan kepada Allah berarti tumbuhnya keinginan bagi orang yang mendirikan
shalat untuk melaksanakan perintah Allah dan menghentikan semua
larangan-larangan-Nya. Dengan shalat seorang akan selalu mengingat Allah,
karena bacaan dari shalat terdiri dari tasbih, tahmid, takbir, do’a serta dapat
merasakan keagungan dan kebesaran Allah.
Mengerjakan
shalat adalah sebagai perwujudan dari keyakinan yang telah tertanam di dalam
hati orang yang mengerjakannya, dan menjadi bukti bahwa ia telah merasakan
bahwa dirinya sangat tergantung kepada nikmat Allah. Karena itu, kita berusaha
sekuat tenaga untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan
larangan-larangan-Nya.
Segala puji bagi Allah, yang telah memerintahkan untuk
beristi’anah (meminta tolong kepada-Nya) dengan kesabaran dan shalat dalam
menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Dia memberitakan bahwa hal itu merupakan
suatu yang berat kecuali bagi para hamba-Nya yang khusyu’ . Allah juga
menyifati kaum mukminin dengan khusyu’ dalam shalat mereka. Allah menjadikannya
sebagai sifat-sifat mereka. Allah berfirman :
خَاشِعُونَ صَلاتِهِمْ فِي هُمْ الَّذِينَ ,الْمُؤْمِنُونَ أَفْلَحَ
قَدْ
Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam
shalatnya, [Al-Mukminun : 1-2]
Rasa khusyu
ini tentunya berpusat di dalam hati sanubari yang termanifasikan dalam gerak
anggota badan, pikiran dan perhatian. Rasulullah saw pernah menegur seorang
sahabat yang suka mengelus-elus janggutnya sedangkan ia sedang shalat.
Rasulullah menjelaskan bahwa rekannya itu tidak khusyu dalam mengerjakan
shalat. Selanjutnya Rasulullah saw bersabda bahwa kalau hatinya khusyu maka
anggota badannya akan khusyu pula.
Ahmad Ali
Ash Shabuni dalam Mukhtashar Tafsir Ibni Katsir menerangkan bahwa sikap khusyu
dalam shalat adalah dengan melempar pandangan ke arah tempat sujud dan khusyu
akan tercapai dengan mengosongkan hati hanya untuk shalat. Orang yang
menjalankan shalat akan memperoleh “ketenangan hati” dan “penyejuk hati”.
Dengan
demikian, shalat itu dikerjakan dengan memahami arti bacaan dalam shalat,
selalu ingat kepada Allah dan takut akan ancaman-Nya, memanjatkan do’a hanya
kepada Allah dengan sepenuh hati dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah hingga
merasakan suatu kenikmatan beribadah.
No comments:
Post a Comment